AKHIR SEBUAH PENANTIAN


Malam semakin larut, hujan rintik turun membasahi bumi. Perlahan kabut mendekat menyelimuti alam sekitar. Terasa udara begitu dingin menusuk tulang. Kuteguk kopi yang masih tersisa. Berharap bisa mengusir rasa kantuk dan dingin. Entah karena sudah larut, rasa kantuk tak bisa kutahan. Kulihat sepintas, puntung rokok menumpuk diasbak. Hmm entah berapa banyak kuhisap malam ini, namun rasa gelisah, kecewa dan penasaran masih saja membekas dalam batin dan pikiranku. Entah …akan berapa lama ini terus terjadi.

Sambil menahan kantuk, kuseret tubuh ini beranjak dari teras rumah. Dengan malas kubuka pintu kamar . Kembali mata ini terpaku pada sebuah foto, yang telah berahun-tahun menemani tidurku.. Tak pernah lupa kubersihkan, dari debu-debu yang menempel setiap hari. Seakan kutakrela sebutir debu menempel diwajahmu. Terkadang, begitu lama kutatap wajahmu yang selalu tersenyum. Lesung pipimu mengingatkanku kala kau terseyum manja. Dan matamu yang sipit terasa menghujam dalam hatiku, saat itu dengan pandang matamu yang sipit kau ucapkan janji setiamu. Yach…. kata2 itu sangat manis terdengar dan selalu membekas dalam ingatanku. Walau berapa bulan beralu kemudian, lewat surat engkau tuliskan kata berpisah. Tanpa sebuah kalimatpun alasannya…

Kucari dan terus kucari alasan itu. Namun tak jua kutemukan jawaban darimu walau hanya satu kata. Ku tahu, tak lama berpisah, engkau telah bersama orang lain. Dan dari berita yang kudengar, selepas tamat sekolah engkau telah menikah dengan lelaki pilihanmu. Aku iklas menerima semua ini, walau duka terasa sangat kurasakan. Namun hanya satu yang kutunggu darimu sampai kini. Mengapa engkau tinggalkan aku setelah semua janji yang kau ucapkan. Ku hanya ingin mendengar sendiri dari mulutmu alasan  engkau meninggalkanku. Ya hanya itu… dan tidak lebih…

Lelah kumemikirkan semua itu dan pandanganku mulai kabur dari wajahmu. Akupun rebah diranjang, tertidur membawa sebuah pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban. Waktu terus berlalu, dan bulanpun telah jauh beranjak. Kurasakan, perlahan-lahan tubuhku terasaringan dan  sangat ringan. Kini kulihat rumahku sangat kecil. Oh..aku terbang kini, namun belum sempat kuperpikir, tiba-tiba tubuhku melesat dengan begitu cepat menembus batas ruang, waktu bahkan dimensi. Begitu cepat semua berlalu, kini kutelah berdiri didepan rumahmu. Ah belum berubah sedikitpun tatanan rumahmu. Kursi panjang tempat kita berbagi cerita masih berada di bawah pohon mangga, masih seperti yang dulu…..kulihat engkau sedang mengasuh anakmu. Engkau tersenyum manis melihat kedatanganku. Sambil menggendang anak lelaki engkau menyuruhku masuk. Dan kau serahkan gendonganmu padaku. Dengan hati-hati kurengkuh dan kupeluk anak kecilmu. Dengan penuh kasih kudekap dan kucium anak kecilmu. Engkaupun berkata “lihatlah mas wajah anak itu, mirip sekali dengan wajahmu”. Tak sengaja kulihat wajah anak dalam gendonganku, hmmm …. eh teryata memang mirip. Aku heran dan tertawa kecil sambil kupandangi wajah ibu dan anaknya. Lucu bagaimana bisa terjadi. Dan kitapun bercerita deselingi tawa dan tangis anakmu. Bahagia sekali saat itu. Setalah belasan tahun ndak ketemu, sekarang bisa jumpa lagi.

Namun rasa bahagia, tidak bisa terlalu lama kurasakan. Suamimu telah pulang dari kerja dan kutahu aku tak boleh berada dalam rumahmu.Sedikit kata terucap ku pamit padamu. Seiring kata pamit terucap engkau menangis begitu keras. Ku lihat air matamu  begitu deras mengalir, membasah penuh pipimu yang halus. Disela tangismu engaku mempersilahkan aku tuk mengambil barang yang kusuka sebagai kenangan. Haru bercampur sedih menyayat hati kudengar semua katamu, Ingin sekali kucium rambutmu Ingin rasanya kupeluk dan ku usap semua air matamu. Kutak sanggup melihat engkau bersedih. Namun kumasih sadar itu tidak boleh kulakukan karena engaku sudah punya suami. Bahkan kulihat suamimu mulai marah atas tindkanmu ini. Sambil bersujud dan memegang kakiku engaku terus menangis, diantara tangismu bisa  kurasakan ada  penyesalan dan kesalahan serta permintaan maaf atas keputusannya berpisah dariku waktu  itu. Kutak sanggup berlama-2 walau tersa berat dan kata pamit ku terpaksa perlahan pergi dari rumahmu, seiring langkah kaki,  samar masih terdengar suara tangismu.

Langkah kaki terus menyusuri jalan, meningalkan sejuta kenangan dari orang yang pernah sangat kucintai. Tak lama waktu berselang, kuterbangun dari tidurku. Seperti tak percaya akan semua mimipi. Serasa kutelah jauh bepergian. Kulang dan kuingat kembali semua peristiwa dalam mimpi. Ada sejuta bahagia menyelimuti kablu. Aku bisa memandang wajahmu, suara merdu dan senyummu yang tak kan pernah kulupakan. Dan kuteramat bahagia sekali kini, jawaban yang telah belasan tahun ku nanti, terjawab sudah walaupun hanya lewat mimpi. Tapi bagiku itu sudah cukup. Kini kubisa tenang menghadapi waktu yang tersisa. Mengisi hari merangkum bulan dengan anktivitas penuh semangat. Terima kasih Tuhan Engkau Maha Petunjuk Akan Semua Rahasia-Mu.

Walau waktu telah lama memisahkan, dan Kau telah milik orang, namun rasa cintaku padamu tak pernah berkurang. Kasihku…aku hanya bisa mendoakanmu semoga engkau bahagia bersama keluargamu slalu. Biarlah cinta ini tetap ada walau kita tak kan mungkin bersama kembali…sejuta kenangan,  ribuan kata indah tercipta,  biarlah menjadi hiasan untuk kebahagian kita masing-masing………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s