BAIT CINTA DIUJUNG JALAN


 

Desah angin menyapu lembut wajahmu, mengukir senyum teramat indah. Rambutmu yang panjang menari pelahan membawa sejuta pesona. Sedikt malas matamu yang sipit terbuka memandang jauh penuh arti. Sinar rembulan tipis menerpa pipimu yang putih membias indah pelangi. Jemari lentikmu bermain-main merangkai kata. Hentakan dan deburan air laut kurasakan seperti nyanyian cinta. Kita duduk dipasir pantai senja hari.

Rembulan terus beranjak menatap setiap cerita antara kita. Lama waktu berlalu, rembulanpun perlahan meninggalkan kita. Sudah lama tak terdengar untaian kata diantara kita. Namun kutak pernah lelah memandangmu  yang terus membisu. Hanya helaan  nafas kecil yang bisa kudengar, walau tlah lama ku menunggu bait demi bait keluar dari mulutmu yang mungil.

Sabar kumenanti kata terucap darimu. Tatap matamu teramat sukar tuk bisa kuterjemahkan.  Lentik bulu matamu bergerak dalam arah yang tak menentu. Hmm…apa arti semua itu? Pelahan namun pasti butiran2 air matamu jatuh membasahi pipimu yg halus.

Jauh sebelum ini terjadi engkau sangat lincah dan gembira, bibirmu bergerak tiada henti mengucap seribu kata sejuta makna. Terkadang ku tak sempat lagi tuk berkata……..namun ku sangat bahagia sebagai pendengar yang baik. Suara tawamu lembut namun menggelitik. Ku tak pernah bosan menatap matamu, walau engkau orang indo namun matamu sipit. Saat itu……ya saat itu masih terekam benar, saat kau bermanja-manja dan rebah dipangkuanku dan saai itu kusingkirkan rambutmu yang sebahu kala menutupi wajahmu. Sebuah kalimat indah tentang cintamu terngiang dalam telingaku, seakan bidadari surga bernyanyi untukku…ku akui teramat bahagia waktu itu dan tanpa kusadari kukecup keningmu dan kamupun tersenyum manja.

Namun kehidupan terus berjalan membawa beribu perubahan. Engkau tak lagi seperti yang dulu. Tak ada senyum dan tawa manjamu, walau ku tahu engkau tlah berusaha. Ada yang tersembunyi didalam hatimu yang tak mampu kau ungkapkan. Kini tiada banyak kuberharap engkau seperti dulu lagi, kurasakan ada jurang yang teramat dalam diantara kita.Aku sangat sedih dan kecewa, namun ku tak pernah menyalahkanmu. Sangat dalam rasa kasihku padamu, walau perih dan duka, biaralah ku tanggung semua itu sendiri…

Malam beranjak jauh, kulihat semakin deras air matamu seiring kudengar isakan keluar dari bibirmu. Dengan menggigit bibir kau berusaha tuk menahan isak tangismu, namun semakin keras tangismu kudengar. Lemah kugapai dan kupeluk erat tumbumu yang lungai. Bisa kurasakan goncangan hati dan jiwamu menghadapi semua ini.  Diantara isak tangismu, kini kusedikit memahami betapa berat beban yang harus kau tanggung. Engkau terlahir sebagai gadis yang manja dan terlahir sebagai anak yang terahir diantara saudaramu. Betapa pentingnya arti restu orang tuamu terhadap hubungan kita. Sedih dan duka membawa luka mendalam dalam hati ini. Walau hatiku bisa memahami, Namun kumasih tak percaya ini terjadi, masih jelas janji kasihmu waktu itu. Dan keramahan orang tuamu setiap kali u berkunjung kerumahmu…Malam semakin larut, mendung datang menghapus rembulan. Erat ku dekap dirimu seakan ku tak ingin kau lepas darimu. Terbayang langkah hari esok, walau teramat berat, namun kuingin engkau bahagia. Sebelum jalan mendekati ujung, sekali ingin kudengar kata kepastian darimu………Kasihku kan kutunggu jawabanmu sampai waktu menjemputku……………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s