MEMELIHARA KESEDIHAN


Kesedihan timbul karena duka, dan duka terlahir karena harapan tidak tercapai. Banyak orang bersedih karena diputus cintanya dari sang kekasih. Ada juga orang yang bersedih karena berharap suatu jabatan dikantor teryata diambil orang lain. Orang juga sangat bersedih saat orang yang dikasihinya (ortu atau saudara) meninggalkan dunia ini.

Kesedihan kadang hinggap bebeapa hari namun ada juga sampai waktu yang cukup lama belum hilang juga. Saat berjalan dan dinya orang “Mengapa kamu bersedih ?” maka ia akan menjawab dengan wajah yang murung dan suara yang pelan karena saya….dan saya….Dan orang yang bertanya biasanya akan menangguk-angguk sebagai expresi turut bersedih.

Masalah datang silih berganti, harapan dan asa yang kita tanamkan dalam-dalam terkadang kandas ditengah jalan, atau gagal saat hampir tercapai Banyak orang terkadang senang memelihara kesedihan, walaupun penyebab kesedihan sudah berlangsung cukup lama. Berbagai alasan ia ungkapkan tentang penyebab kesedihanya. Berjalan kesana kemari dengan wajah yang muram dan berharap orang merasa iba padanya, Namun apa yang ia peroleh? Tidak ada, orang hanya pura-pura merasa bersedih saat dihadapannya. Mungkin dibelakangnya mencemoohkanya. Jadi untuk apa kita memelihara kesedihan dan menharapkan orang lain untuk iba dan kasihan melihat nasib kita. Toh semuanya tidak bisa membantu dan menolong kita dari masalah yang telah membuat kita sedih . Apakah boleh kita bersedih? Jawabannya tentu TIDAK, karena kesedihan tidak memmbantu dalam menyelesaikan masalah. Apakah saat orang yang kita sayangi meninggal dunia kita tidak boleh bersedih? Sekali lagi jawabannya adalah TIDAK. Karena betapun dalam kesedihan  kita,  tidak akan menghidupkan kembali orang yang kita sayangi.

Saat cuaca mendung kita membawa payung biar tidak kehujanan dijalan, begitu juga saat mau belanja kita membawa uang. Duka dan bahagia, Keberhasilan dan kegagalan akan kita alami selama hidup kita. Maka alangkah baiknya kita mempersiapkan jiwa kita untuk menghadapi itu semua. Saat bahagia itu datang kita tidak kaget karena itu yang kita cari. Daan saat kegagalan datang kita tidak bersedih karena sudah mempersiapkan diawal jalan keluarnya. Yang ada didunia adalah milik Sang Pencipta, kita tidak memiliki apapun didunia ini termasuk barang yang melekat pada diri kita, anak-anak kita, bahkan nyawa sekalipun. Jadi saat titipan diambil atau hilang,  kita tidak boleh menolaknya dan tiada hak kita untuk bersedih, karena semua itu bukan milik kita. Semua yang bernyawa akan mati dan kembali pada Sang Penciptanya. Jika kita memahami kalimat tersebut tiada benar kita bersedih saat orang-arang yang yang kita sayangi meninggalkan kita.

Jadi marilah kita terus meningkatkan kesadaran “tentang siapa diri kita”, hak dan kewajiban seperti apa yang  kita punyai didunia ini. Sehingga kita bisa dijauhkan dari kesedihan, karena kesedihan tdiak akan merubah nasib kita, bahkan cenderung menambah masalah. Siapkan dan tingkatkan kulitas jiwa dan pikiran kita sehingga  kita sanggup dan siap menghadapi kegagalan dalam perjalan hidup kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s