SEKUNTUM TEMBANG KEIKHLASAN


Ikhlas bias diartikan menerima segala sesuatu dengan hati yang lapang, tidak mengeluh dan memberi tanpa pamrih apapun. Ada orang yang yang mengatakan ikhlas berulang-ulang, tapi hatinya merasa keberatan atau menolaknya.

Sering orang memonjamkan barang pada orang lain dan dalam hati berkata “saya ikhlas menolongnya”. Namun saat barang itu dikembalikan dan dalam kondisi tidak seperti saat meminjam, entah itu kotor atau ada yang rusak, maka kita akan merasa kecewa. Berkeluh kesah pada orang lain tentang kejelekan orang yang meminjam. Kalau itu terjadi pada diri kita, artinya keikhlasan yang diucapkan di awal hanya palsu belaka.

Ada juga orang yang lagi bermasalah dalam cinta; missal diputus oleh pacarnya. Maka ia akan marah, kecewa dan benci pada mantan pacarnya serta dengan sekuat mungkin untuk melupakannya. Dalam usaha tuk melupakan mantan pacarnya tersebut sering terlontar perkataan “saya akan ikhlas melepaskanya demi kebaikan kita bersama dan saya akan bahagia jika mantan pacarnya bahagia juga” Namun saat sang mantan pacar mendapat kekasih baru, ia akan menjadi sedih dan marah kembali padannya. Jadi benarkah ia sudah “ikhlas” kehilangan pacarnya?

Setiap kejadian yang kita alami timbul dari sebab yang kita lakukan (Hukum sebab akibat). Kita sering merasa bahagia saat mendapat sesuatu  missal ; kendaraan baru, kekasih atau seorang pelajar akan bergembira jika nilai dirapot bagus semua. Namun tidak pernah menyadari “dari sebab yg bagaimana ia mendapatkan semua iu. Jika hal tersebut terjadi kebalikannya; missal kehilangan kendaran yang baru dibelinya, kehilangan pacar atau banyak mendapat nilai merah dirapot. Ia akan marah dan kecewa berkepanjangan, tanpa menelaah apa sebab semuannya bias terjadi.

Ada orang yang sudah berusaha semaksimal mungkin, berdoa siang dan malam, namun hasil yang didapatkannya tidak seperti yang diharapkan. Maka ia akan merasa sedih dan kecewa, terkadang terlontar kata protes kepada tuhan <blink>”tuhan tidak adil”</blink> , apa yang kurang dari diri saya semua sudah dilakukanya namun tak berhasil juga.

Ikhlas timbul dari kesadaran hati yang paling dalam dan tidak bisa dipaksakan, tapi harus dilatih. Ikhlas adalah buah dari kesabaran dan penyerahan secara total pada sang pencipta. Menyakini dengan segenap jiwa dan raga, bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Manusia hanya punya kewajiban berusaha dan berdoa, tentang hasil hanya Sang Penguasa yang berhak menntukkannya. Sabardalam menerima, bersyukur saat diberi dan tersenyum saat kehilangan baik berupa harta maupun orang yang snagat kita cintai.

Keihlasan bias kita tumbuhkan dengan meningkatkan kesedaran pada diri kita bahwa hakikatnya kita hidup tak punya apa-apa. Bukankah saat lahir kita dalam keadaan telanjang dan tidak membawa sesuatupun? Segala yang melekat pada diri kita hanyalah titipan semata. Jika yang memberi titipan mengambilnya kita harus dengan senang melepaskannya, karena berate kita tidak perlu menjaga titipannya. Kita harus selalu sadar bahwa titipan itu baik berupa benda maupun orang terkasih “cepat lambat akan diambil” yang punya.

“Sang penitip” akan tahu kapan akan mengambil apa yang telah ditipkannya. Jadi kita harus selalu siap menyerahknnya. Tuhan maha pengasih dan penyanyang, Dia maha tahu dengan rahasia dibalik pemberian dan pengambilan-Nya. Bersabar dan berkeyakinan bahwa sang pencipta tidak pernah membuat hidup kita sulit akan meningkatkan kadar keikhlasan kita. Pentunjuk atau hikmah dari-Nya atas kejadian yang menimpa kita “pasti” akan datang di lain waktu. Alangkah malunya jika kita akan diberi kebaikan namun sudah kecewa dan marah terlebih dahulu.

Jadi ikhlas  yang sebenarnya, bisa kita latih dengan terus meningkatkan kesadran siapa diri kita dan siapa yang berkuasa di dunia ini. Serahkan diri kita sepenuhnya kepada sang pencipta. Bersyukur apa yang ada dan tiada pada diri kita. Dan yakin Allah maha pengasih dan maha penyayang…

<p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s